Pendidikan Keluarga

19Feb08

Pada suatu pagi, di sebuah rumah di Jalan Aceh, kota Bandung, terjadi sebuah diskusi menarik tentang prioritas pengajaran agama kepada anak kecil. Saya yang merujuk dari pernyataan di kitab Ta’lim Muta’alim bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang berkaitan  dengan (kewajiban) diri sendiri mengutarakan pendapat untuk mengajarkan agama oleh orang tua kepada anak prioritas pertama adalah mengajarkan mengenai ibadah wajib yang harus dilakukannya. Sedangkan seorang teman berpendapat bahwa seharusnya pengajaran dilakukan dengan menyampaikan nilai-nilai fundamental terlebih dahulu, mulai dari masalah keyakinan hingga nilai-nilai spiritual yang lain, baru kemudian dimunculkan kesadaran melaksanakan ibadah ritual sesuai nilai-nilai tadi. Sebenarnya, menurut saya, kedua pendapat kami memiliki kesamaan sccara substansi dan pada akhirnya akan bermuara pada tujuan yang sama yaitu pemahaman agama secara integral pada diri anak tadi. Perbedaannya hanya pada masalah teknis mengenai prioritas dan cara penyampaian.

Bagi saya, bukan masalah mana pendapat yang benar pada diskusi tersebut, atau siapa yang kuat argumentasinya, namun ada sebuah pelajaran bahwa fase pendidikan dalam keluarga oleh orang tua adalah fase paling utama dalam pembentukan pribadi anak secara utuh. Sekolah, meskipun juga memberikan pendidikan, hanyalah sebuah sarana tambahan untuk mendapatkan materi secara lebih sistematis. Pendidikan disekolah rata-rata hanyalah 49 jam diantara 168 jam kehidupan seorang anak dalam seminggu. Selebihnya, waktu seorang anak menjadi tanggung jawab orang tua untuk mengarahkan.  Entah diarahkan untuk les, ikut klub sepak bola, ataupun, bahkan, cuma dibiarkan menonton televisi di rumah atau main Play Station.

Kasus imitasi anak-anak terhadap adegan gulat dalam acara Smackdown di sebuah televisi swasta akhir-akhir ini sebenarnya tidak lepas dari kesalahan orang tua. Permasalahan bukan hanya pada acara tersebut, tapi juga pada pola didik orang tua terhadap anaknya juga. Kebanyakan orang tua, saat ini, memiliki kecenderungan untuk mengalihkan tanggung jawab  pendidikan kepada sekolah. Dengan sudah menyekolahkan anaknya, orang tua merasa telah mendidik anak dengan baik. Hal demikianlah yang akhirnya menyebabkan menurunnya pengaruh figur orang tua terhadap anak di dalam pembentukan pribadinya.

Penanaman nilai-nilai fundamenal, seperti yang diutarakan oleh teman saya tadi, kepada anak memerlukan lebih banyak peran dari orang tua. Nilai-nilai tersebut, selain memerlukan penyampaian secara mudah dan khas untuk setiap anak, juga membutuhkan contoh perilaku yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan nyata nilai-nilai yang diajarkan. Termasuk juga pengajaran ibadah wajib, baik dalam hal bentuk dan makna, seperti pendapat saya tadi. Maka, anak yang baik sebenarnya berawal dari pola asuh yang benar dari orang tuanya. Pola asuh yang benar berasal dari orang tua yang mengerti tanggung jawabnya. Jadi, kualitas anak dipengaruhi juga oleh kualitas orang tua. Nah, bagaimana dengan anda sebagai calon orang tua ? sudahkan bersiap menjadi orang tua yang berkualitas ? orang tua yang sanggup mengajarkan nilai-nilai fundamental dalam hal spiritual, kemanusiaan, dan intelektual dan mencontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Miff

Terima kasih kepada seorang teman, atas diskusinya yang mengasyikkan. Semoga kita semua menjadi orang tua yang baik. Amiin

Advertisements


5 Responses to “Pendidikan Keluarga”

  1. Idealnya sih memang ortu harus serba mahir, baik dari segi ilmu agama, science, sosial, sampe psikologi. Tapi kalo merasa diri tak mampu memberikan itu semua, ya minimal pendidikan akhlaknya dulu… disusul dengan membiayai anak untuk sekolah [mewadahi anak untuk mendapat pendidikan dari ahlinya].

    Kalo menyekolahkan anak dianggap pembenaran/pelepasan tanggung jawab… ngg… kadang Rachma bingung, karena pengalaman Rachma sendiri… waktu kecil Rachma sering ditinggal Mama [beliau kuliah lagi, jadi Rachma tinggal sama nenek kakek], terus… gak ngerasa juga ampe diajarin ngaji ama ortu tiap hari…

    Tapi Rachma udah mulai ikut-ikut sekolah agama, dan pengajian harian. Dan ampe sekarang juga gak ngerasa kurang kasih sayang walo pas kecilnya kaya gitu….

    8-|

    ortu gak harus serba mahir sih. gak harus tau semua hal untuk mendidik anak. cuma nilai2 fundamental saja. ya,akhlak salah satunya. hal2 fundamental seperti agama, tata nilai budaya, sopan santun, penghargaan atas ilmu, disiplin, kejujuran, dsb, agar anak minimal memiliki pegangan ketika tumbuh menjadi remaja dan tidak terombang ambing berubahnya zaman

  2. 2 Sharee

    Orang tua mana yg tdk menginginkan anak2nya mjd penyejuk mata hatinya…??

    ketika cita2 hidup ortu kandas, maka anak adalah tumpuan terbaik utk teraihnya kembali cita2 itu. jika ortu menyesali perjalanan hidupnya, maka anak adalah harapan paling mungkin utk menciptakan sejarah baru yg diimpikannya. jika ortu adalah orang sukses, maka anak adl orang terbaik yg akan meneruskan perjuangannya. jika ortu merasa lemah dalam pengabdian pd Alloh, maka anaklah yg paling mungkin membantu menambah pahala dan meringankan siksa akhirat ortu dg doa2 dan amal salehnya.

    Sebenarnya orang yg paling b’tanggungjwb atas pendidikan seorang anak, sebelum siapa pun, adalah orang tuanya. Orang tua akan menjadi figur paling berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Kata Rasulullah…”Orang tuanyalah yg kelak akan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi…”.

    Ortu harus mempunyai kapasitas untuk memberikan pendidikan yg cukup kompleks, yg menyentuh seluruh instrumen kemanusiaan seorang anak. Baik spiritual, intelektualitas, emosi, moral/akhlak, kedisiplinan, kemandirian bahkan pendidikan ttg kesehatan, yg kesemuanya harus saling terintegrasi. Untuk ini ortu tidak harus mjd orang yg tau & pintar segalanya, tapi cukuplah ortu mjd seorang bijak yg peduli thd pendidikan putra-putrinya. Dan yg paling penting keteladanan orang tua tentunya…

    “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriiyyaatinaa qurrota a’yuni, waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa…”

    Iseng pengen kasih comment…Semoga kelak kita bisa mjd orang tua yg ditinggikan derajatnya disisi Alloh karena memiliki putra-putri yg sholih/ sholihah…Amiin…^_^

    wah, komentar yang panjang lebar nan memikat dari mbak sari. setujua aja deh mbak. btw, maksudnya “kita” di paragraf terakhir tu apa ya ? saya n mbak sari ato….mbak sari n saya ..heheh:-))

  3. 3 Fikrie

    1. Peneladanan
    Ortu harus jadi contoh bagi anak2nya. Dia tidak bisa berkata “Kamu harus begini, dan kamu harus begitu” tapi dia sendiri tidak melakukannya. Sehingga jatuhlah martabat orang tua dimata anaknya, dan semakin tidak dipercayailah dia, dan semakin tidak didengarlah nasihat-nasihatnya.

    2. Belajar dan Mengajar
    Ortu harus terus belajar, karena dia PASTI kekurangan ilmu. Dan harus mengajar anaknya terutama masalah aqidah.

    3. Jujur
    Jujurlah bila kita tidak tahu, bila suatu saat kita ditanyai anak dan kita tidak tahu. Tapi jangan berhenti disitu, carilah jawabannya. Ini mengajarkan beberapa hal pada anak, jangan menyerah, pengetahuan manusia terbatas dan harus terus belajar, jujur, memenuhi janji.

  4. 4 Heike

    When someone writes an article he/she retains the thought of a user in his/her mind that how a user can be aware of it.
    Therefore that’s why this article is amazing. Thanks!

  5. Amazing issues here. I am very happy to look your article.
    Thanks so much and I’m looking forward to contact you. Will you kindly drop me a mail?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: