Memilih Untuk Kolaps

19Feb08

Selain dampak perubahan iklim, bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia juga akibat kelalaian manusia. Manusia cenderung hanya mengambil keuntungan dari alam tanpa mau melestarikannya. Akibatnya daya dukung lingkungan lemah dan bumi pun menjadi rawan bencana (Kompas, 30 Desember 2007)

Longsor terjadi di Karanganyar. Banjir menimpa Solo, Ngawi, Madiun, Purwodadi, Bojonegoro, Wonogiri, dan beberapa daerah lain di Kalimantan dan Sumatera. Berita tentang bencana pun menjadi santapan harian kala televisi menayangkan berita dan koran menurunkan tulisannya. Entah berapa banyak kerugian ekonomi mendera. Lebih sukar lagi menakar penderitaan orang-orang yang menjadi korban, kehilangan rumah, dan harta bendanya.

Salahkah alam yang sedang mencari keseimbangan barunya ?. Tentu, ungkapkan saja kekesalan pada hujan yang turun terus menerus sehingga air muncul jadi air bah, membawa bencana. Salahkan juga pohon-pohon yang terengah-engah tak mampu menahan pergerakan tanah sehingga longsor terjadi. Kambing hitamkan saja alam agar tak susah kita berdebat siapa yang salah, agar sang bapak di kursi kekuasaan merasa aman  dan kita tak capek-capek berpikir.

Tapi apa iya manusia tak punya salah ?. Kita mengalihfungsikan lahan dengan seenaknya. Hutan kehilangan pohonnya, hingga tak ada lagi akar-akar menjalar yang menahan tanah  agar tak digerus air dengan mudahnya. Lahan-lahan tepi sungai digunduli tanpa ampun. Air hujan pun langsung mengalir dengan enaknya menuju sungai. Kemudian, sungai seakan meluapkan kekesalanya karena pendangkalan tak pernah dibahas oleh manusia-manusia pengguna alam. Kekesalan yang menahun dan berbuah air bah yang tak tertahan menggenangi pemukiman dan menghanyutkan segala apa dihadapannya.

Ada baiknya kita menengok Angkor Wat di Kamboja. Ibukota kerajaan Khmer yang menjadi kota mati, ditinggalkan penduduknya karena kehilangan daya dukungnya setelah dibangun tanpa perencanaan, sehingga terus-menerus mengalihfungsikan hutan disekitarnya, dan tanpa sadar telah merusak alam yang membantu kehidupan penduduk kota (Geoweek, Kompas, Desember 2007). Mungkinkah kita gagal mengantisipasi alam yang berubah ini ? atau mungkin kita tak sadar jika alam telah berubah ? Mungkinkah justru kita sedang memilih untuk kolaps ?

Advertisements


4 Responses to “Memilih Untuk Kolaps”

  1. benar-benar pak miftah, refleksi yang bagus.
    btw. jadi kita harus pindah dari kota2 itu Mif?

    huh, untung Magetan ga ana hehe

    Karanganyar. Banjir menimpa Solo, Ngawi, Madiun, Purwodadi, Bojonegoro, Wonogiri, dan beberapa daerah lain di Kalimantan dan Sumatera.

    mif: makane pak, mending ke jogja ajah, kota yg toto tentrem kertoraharjo…viva jogja…heheh

  2. Magetan dilit meneh ndro..

    Ah.. jadi inget diskusi kebenaran global warming..

  3. Sampe sekarang aku masih belum ngeh sama pemanasan global. Banyak hasil diskusi masih menyebutkan bahwa global warming belum terbukti.

    Yang aku percaya sih kemalasan global…
    he..he..he..

    miff: sebenrnya gak terlalu mengungkit masalah global warming sih, cuman menyentil perilaku kita sebgai manusia yg kadang gak menghargai alam, perilaku yg scra gak langsung memperparah bencana yg juga disebabkan alam yg mencari keseimbangan barunya.
    tapi paling parah emang kemalasan global.itu yg melanda indonesia dan sekitrarnya..heheh

  4. 4 Geri

    Now Ι am going tо do my breakfast, lаter than haѵing my breakfast ϲoming agаin to
    read ⲟther news.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: