Malin Kundang

07Dec07

Setelah menjadi saudagar kaya raya, si Malin tak mau mengakui sang ibunda yang miskin papa. Berbohong pula ia pada istrinya, anak saudagar kaya nan terpandang, bahwa wanita tua tak berpunya dihadapannya bukanlah ibu yang mengandung dan mengasuhnya. Akhirnya terkutuklah Malin menjadi batu beserta kapal dagang kebanggaannya. Dingin dan membatu diterpa ombak lautan sepanjang masa, sebagai pelajaran bagi manusia.

Sosok Malin Kundang adalah sosok yang lupa diri akan asalnya. Ia tercerabut dari akarnya dan menjadi sosok sombong setelah mengalami perubahan status kelas sosial yang berbeda dengan sang Ibunda. Lupa diri si Malin merupakan contoh hilangnya kesadaran identitas dalam diri manusia. Kesadaran identitas adalah kesadaran individu yang utuh akan atribut2 asal yang melekat pada dirinya. Bukan hanya nama, agama, dan alamat seperti di KTP, tapi lebih dalam seorang individu sebagai manusia dan segala latar yang membentuk kehidupannya. Juga bukan hanya siapa diri kita, namun berlanjut ke pertanyaan apa, dan bagaimana diri kita dengan segala atribut2 tadi. Jika ada manusia bernama Joko, bersuku Jawa, beragama Islam, dan berkewarganegaraan Indonesia, kesadaran identitasnya tak hanya sebatas itu. Tapi, lalu, apa itu manusia, Jawa, Islam, dan Indonesia, untuk apa eksistensinya sebagai manusia, Jawa, Muslim, dan Indonesia, kemudian berlanjut hingga harus bagaimana dirinya berperilaku sebagai seorang manusia bersuku Jawa, Muslim, dan orang Indonesia.

Kesadaran identitas yang dalam akan membawa kita menemukan rujukan untuk menyusun prinsip-prinsip kehidupan. Si Joko tadi akan menemukan kearifan2 lokal dari budaya Jawa, filosofi2 spiritual sebagai muslim, dan semangat kebangsaan sebagai warga negara Indonesia. Dengan rujukan tadi, kita akan mampu berdialektika atau berdialog dengan kritis dengan berbagai macam nilai, budaya, dan ajaran2 yang kini bersliweran dengan bebasnya.

Manusia dengan kesadaran identitas yang kuat tak akan mudah terombang-ambing dalam gonjang ganjing zaman dan tawaran-tawaran berbagai gaya hidup dengan berbagai kemasannya di era informasi seperti saat ini. Dengan kesadaran identitas pula, hidup tak hanya dijalani, tapi juga dimaknai, sehingga menghindarkan kita dari kondisi bernama anomie. Anomie merupakan kondisi yang disebut oleh Emile Durkheim sebagai kondisi dimana terjadi kekacauan dalam diri individu dengan ciri-ciri ketidakhadiran atau berkurangnya standar atau nilai-nilai dan perasaan terasing dan ketiadaan tujuan yang menyertainya.

Tidak mudah memang menumbuhkan kesadaran identitas. Dibutuhkan perenungan yang agak dalam dan cukup sulit ditengah tawaran gaya hidup instan di sekitar kita. Namun, tak ada salahnya kita mencoba merenung, berhenti sejenak dari rutinitas kehidupan. Sejenak saja kok, tak lebih dari 40 jam seminggu waktu kerja kantor. Toh, hasil perenungan yang membuahkan kesadaran identitas tersebut akan menjadi bekal berharga dalam menjalani hidup. Minimal, kita bisa ”menolong”, memotivasi, dan mengingatkan diri kita sendiri dengan prinsip-prinsip kehidupan yang kita miliki dari kesadaran identitas tadi. So, selamat tinggal buku-buku ”self help” dan training2 motivasi, bye..bye.

Advertisements


No Responses Yet to “Malin Kundang”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: