Guru

07Dec07

Aku menjadi hamba seorang yang telah mengajarku walaupun satu huruf (Imam Ali r.a,. dikutip dari kitab Ta’lim Muta’alim, fasal IV)


Teringat pada percakapan di sebuah kantin di pojok barat laut sebuah institut terkenal di negeri ini.

”Wah, kemaren gue habis presentasi ama pak A***. Serem banget euy! Senyumnya itu lho”,kata seorang mahasiswa

”Ooo, emang dosen lab. *** suka gitu tu, suka senyum-senyum sinis, nyebelin !”,

”Dasar mekanistik”, sahut temannya

Percakapan model ngrasani seperti itu mungkin sering dijumpai di kalangan mahasiswa, pelajar, atau kalangan penuntut ilmu pengetahuan lainnya. Tak jarang segala kejelekan, dari kekurangan fisik sampai metode mengajar, dibeberkan dengan segala bumbu-bumbu penyedap suasana. Seakan menafikkan ilmu pengetahuan yang telah disampaikan. Sangat berbeda dengan penghargaan seorang Ali bin Thalib yang merendahkan kedudukannya di hadapan para penyampai ilmu pengetahuan.

Pendidikan dengan titik berat pada kompetensi teknis seperti sekarang ini memang sering membuat kita lupa akan nilai penghargaan kepada dosen atau guru sebagai seorang manusia. Hubungan guru dan murid lebih berbentuk hubungan keprofesian belaka. Sebatas pada kegiatan belajar mengajar di ruang kelas atau bangku kuliah. Para pelajar pun terlupa akan adabnya terhadap sumber ilmu pengetahuan. Terlupa jika kebodohannya tak akan hilang jika sumber ilmu pengetahuan itu tiada. Sosok pendidik kemudian tereduksi menjadi hanya sekedar penyampai materi yang hanya dipelajari ketika ujian akan berlangsung.

Mungkin karena itulah, Naquib Al Attas, pendiri Institut of Islamic Thoughts (IIT) di Malaysia, mencoba merumuskan sebuah definisi pendidikan sebagai Adab, bukan tarbiyah. Tarbiyah, yang sebenarnya juga berarti pendidikan, dianggapnya hanyalah proses belajar mengajar saja. Sedangkan istilah adab, yang konon diambil dari sebuah hadis nabi, adalah penyampaian ilmu pengetahuan sekaligus pembentukan karakter pribadi. Dengan demikian pendidikan tidak hanya merupakan proses transfer ilmu pengetahuan dalam arti sempit. Tapi, ilmu pengetahuan dalam arti luas yang mencakup nilai-nilai yang memanusiakan manusia. Sebagaimana kritik Ibnu Hazm, seorang ilmuwan Andalusia, bahwa pengetahuan seharusnya dihubungkan dengan empat nilai kebajikan: Keadilan (adl), pemahaman (fahm), keberanian (majdah), dan kemurahan hati (jud).

Adalah sebuah cerminan akhlak yang mulia, jika kita menghormati para pemberi ilmu pengetahuan. Dengan membiasakan diri menghormati para pemberi ilmu, berarti kita sedang menanamkan sebuah kebajikan dalam diri kita. Kebajikan yang menjadikan kita sebagai manusia yang bijaksana. Bukan hanya pintar secara intelektual, tapi juga emosional dan spriritual. Sudahkah anda menghargai dosen atau guru anda ? menghargai sumber ilmu pengetahuan yang menghapuskan kebodohan dan membuat kita tahu akan banyak hal dalam kehidupan ini.  

Advertisements


2 Responses to “Guru”

  1. 1 arifrahmanlubis

    hehehe 🙂 saya ini termasuk pelakunya. masih sulit berterimakasih pada ilmu. mudah2an untuk guru2 tersebut jadi pahala. termasuk ke bang miftah yg udah ngingatin.

    btw, masih di pmo kan? ada buku Naquib Al Attas ga? saya pinjem donk.

    blognya saya link.

  2. wah..bukunya naquib al attas ?? gak punya pak..dulu juga minjem dari mana gitu..kalo kata lucky sih, di sekre kaderisasi salman ada tuh bukunya naquib…:-P


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: