Islam dan Kemanusiaan

24May07

Menarik sekali membaca trilogi tulisannya Buya Syafi’i Maarif berjudul Islam dan Kekuasaan dalam rubrik Resonansi harian umum Republika. Dalam tulisan seri dua, beliau menulis mengenai pesan-pesan dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Muhammad SAW di Gua Hira. Tulisan buya berbunyi seperti ini, “Setidak-tidaknya terdapat empat paradigma pokok dalam wahyu pertama itu. Pertama, prinsip pembebasan manusia dari buta baca dan buta tulis; kedua, doktrin tentang kedudukan Tuhan sebagai Pencipta yang teramat mulia; ketiga, pemberitahuan tentang asal-usul kejadian manusia dari segumpal darah; keempat, penegasan tentang fungsi Tuhan sebagai Maha Pengajar.” Dalam empat paradigma tersebut, Buya lebih menyoroti pada paradigma pertama dan ketiga. Paradigma pertama dapat diartikan sebagai pengangkatan derajat manusia melalui proses pendidikan yang mencerdaskan manusia. Sedangkan paradigma ketiga adalah prinsip egaliter, dimana kedudukan manusia adalah sama, tidak ada yang patut menganggap dirinya lebih tinggi dan kemudian menindas sesamanya.

“Tafsir” Buya terhadap wahyu tadi menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang membumi dalam nilai keagamaan. Sama juga dengan pesan-pesan keberpihakkan terhadap kaum mustadlafin (tertindas/lemah) yang menginspirasi KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Begitu juga ketika Imam Khoemini melawan rezim Syah dari pengasingan, ayat-ayat kemanusiaan tersebut banyak menginspirasi agitasinya, sehingga muncullah revolusi Iran di kemudian hari.

Memang tak bisa dipungkiri, nilai-nilai humanisme universal memang menjadi pesan umum dari seluruh agama di dunia. Hanya saja, dalam Islam, kita dapat menemukan contoh praksisnya dalam kehidupan Rasulullah di seluruh dimensi kehidupan, dari tingkat individu hingga level negara. Humanisme dalam bingkai tauhid itulah yang menjadikan daulah Islamiyah pada zaman Nabi hingga Khulafaurrasyidin menjadi negara egaliter meskipun kekuasaan sangat terpusat pada sosok khalifah dan lembaga penyeimbang eksekutif belum kuat, jika tidak dibilang belum ada.

Akan tetapi, sangat disayangkan, saat ini ketika berjuta manusia membutuhkan panduan yang rigid untuk kembali pada fitrah kemanusiaannya, Islam hanya ditonjolkan wajah ritual simboliknya. Bahkan tidak jarang justru ditafsirkan secara literal sebagai justifikasi berlangsungya suatu rezim feodal, kekerasan, dan teror. Tauhid pun seakan dibatasi penerapannya hanya menjadi bidang kajian keilmuan, namun tanpa praktek nyata di lapangan. Sehingga pada akhirnya Islam tenggelam dalam kejumudan umatnya, dan kehilangan aura humanisme universalnya.
Nah, jika dalam pandangan sains saat ini sedang ngetrend mengenai istilah integralisme agar sains lebih memberi sumbangan positif pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Maka, tidak ada salahnya jika cara pandang integral tadi juga diterapkan pada pemahaman keislaman. Mungkin ini saatnya pandangan fiqh-sentris, khilafah-sentris, tekstual-sentris, dan juga kontekstual-sentris mulai diintegrasikan agar aura keislaman yang manusiawi muncul kembali dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Wallahu A’alam

Advertisements


3 Responses to “Islam dan Kemanusiaan”

  1. 1 miftahul jannah

    Assalamualikum

    alhamdulillah artikel ini bermanfaat bagi jannah

    terimakasih sebelumnya dan maaf karena sudah membuka artikel ini tanpa ijin wassalamualaikum

  2. terimakasih atas ilmunya….


  1. 1 Komentar di Sastra & Sosio-Kultural Masyarakat oleh Qinimain Zain (PKBM PENDIDIKAN KEAKSARAAN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: