Berbicara Tentang Cinta

31Mar07

Mengatakan cinta merupakan ekspresi terindah dari manusia. Mengatakan kepada siapa saja yang kita cintai. Seperti meletakkan beban berat yang dipanggul sangat lama. Ah..lega rasanya. Gumpalan magma itu keluar begitu saja, menjadi lahar. Mengalir, menghantam penahan di depannya. Rasa malu, gengsi, kehormatan, dan idealisme. Sial, dasar manusia.

Bagi saya sendiri, sangatlah sulit mengekspresikan rasa cinta kepada seseorang. Banyak orang-orang di sekitar saya tidak mengetahui betapa saya mencintai mereka. Orang tua, saudara, sahabat2 kala sekolah,Sahabat2 satu kajian mingguan, teman2 di organisasi, adik2 mentor, “Bos”, eks-“Bos”, dan tentu saja seorang wanita yang saya kagumi (satu aja cukup, kalo empat takut kagak adil..:-D)

Hakikat cinta adalah saling merasakan. Jika orang yang kita cintai sakit, kita akan merasa sakit juga. Seperti satu tubuh. Cinta berkaitan juga dengan pengorbanan. Mengorbankan kebebasan saat lajang, mengorbankan waktu luang, bahkan mengorbankan jiwa raga. Jadi kalo ada laki-laki sering bilang cinta saat pacaran, tapi jika ditantang untuk menikah tidak berani, perlu kita bertanya cintakah dia atau hanya sekedar nafsu belaka?. Sehingga seorang suami yang mencari nafkah demi keluarganya sangat dihargai tetesan keringatnya oleh Sang Ilahi Rabbi karena itulah perwujudan cinta sejati, pengorbanan sejati.

Cinta bisa dibagi menjadi lima tingkatan sesuai obyeknya:

Pertama, cinta kepada lawan jenis. Cinta jenis ini berada pada level terendah. Sebab, cinta ini sebenarnya merupakan tabiat alamiah dari manusia. Seperti insting seekor hewan. Jadi, seorang manusia yang normal akan selalu memiliki tabiat itu, siapapun dia. Seorang ulama besar sekelas Ibnu Hazm pun pernah merasakan cinta ini ketika muda. Namun hati-hati dengan cinta jenis ini. Terkadang manusia tidak menyadari bahwa yang ia rasakan bukanlah cinta, tapi hawa nafsu atau syahwat.Hanya berawal dari pandangan fisik belaka lalu turun ke hati. Kemudian menjustifikasi bahwa orang yang didepannya adalah jodoh dari Sang Maha Kuasa. Arghh…penyakit anak muda:-D.

 

Kedua, cinta terhadap keluarga, termasuk kepada anak, istri, dan orang tua. Cinta ini dikarenakan seorang manusia merasa memiliki ikatan khusus terhadap keluarganya. Bisa karena ikatan perkawinan atau ikatan darah.Sehingga wajar tumbuh rasa cinta, saling merasakan, dan kemauan berkorban. Seorang ibu tak akan tahan melihat anaknya mengeluh kesakitan. Hatinya seakan merasakan kesakitan si anak. Cinta ini tidak melihat jenis kelamin. Jadi, berada satu tingkat diatas cinta kepada lawan jenis.

 

Ketiga, cinta kepada sahabat. Sahabat lebih dari sekedar teman biasa. Lebih dekat dan kuat ikatannya. Bisa terjadi pada sesama jenis atau lain jenis. Tidak seperti cinta kepada lawan jenis, lebih tulus, dan rendah rasa ingin memiliki satu sama lain. Tidak ada ikatan alamiah, seperti hubungan darah, namun tiba-tiba terjalin chemistry erat antara manusia yang bersahabat. Contoh masyhur adalah persahabatan Jalaludin Rumi dengan Syamsudin Tabriz. Rumi bahkan menganggap sahabatnya adalah matahari dan mursyidnya. Sehingga terciptalah kumpulan sajak Diwan i-Syams. Konon Syamsudin Tabriz pernah menghilang cukup lama karena melihat kecemburuan murid2 Rumi kepadanya, dan baru bertemu Rumi kembali saat Rumi sedang sakit keras. Syamsudin pun tidak tahan melihat Rumi berada dalam penderitaan sakitnya. Hmm…cukup indah.

 

Keempat, cinta karena ikatan akidah atau ideologi. Cinta terhadap saudara seagama. Tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu, namun dapat tumbuh perasaan saling merasakan dan pengorbanan. Seperti ikatan orang-orang muhajirin dan anshar pada masa hijrahnya Rasulullah SAW. Cinta ini bisa menimbulkan soladaritas global yang sangat dahsyat. Akan tetapi sayang, sering hilang karena fanatik buta terhadap suatu jamaah atau paham. Kisah tiga prajurit sekarat yang kehausan pada perang Yarmuk patut dijadikan contoh mulia. Satu sama lain saling mendahulukan hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan kehausan.

Kelima, cinta paling tinggi, yaitu cinta kepada Allah dan rasulNya. Tidak pernah kita melihat wujudNya maupun wajah Sang Rasul Mulia. Namun, tetap tumbuh rasa cinta dalam hati, sebuah hal yang luar biasa. Padahal manusia hanya mengenalNya melalui ciptaanNya dan sifat-sifat yang tersebut dalam kitab suci. Rasulullah SAW, hanya kita ketahui lewat kisah dan kumpulan sunahnya. Cinta ini tidak mungkin dicampuri hawa nafsu. Karena nafsulah penghalang utama tumbuhnya cinta kepada Allah dan rasulNya. Cinta kepada Allah menimbulkan perasaan harap dan takut. Rasa harap akan kasih sayangNya dan takut akan siksaNya. Sedangkan rasa cinta kepada Rasulullah menimbulkan keinginan untuk mengikuti sunnahnya dan bersama dengannya di hari akhir nanti. Semoga kita semua dapat bersama Rasul mulia dan mendapat syafa’atNya di hari akhir nanti..Amiin ya Rabbal’alamin.

Cinta memang indah. Akan tetapi cinta yang berlebihan memiliki daya hancur pula. Seorang yang berlebihan beribadah dan berdakwah sehingga lupa untuk menikah atau lupa akan hak-hak keluarganya tidaklah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW (maaf buat pak Syamsu dan Sayyid Quthb..;-D) karena Rasul juga menikah dan memenuhi hak-hak istri-istrinya. Lebih buruk lagi,berlebihan mencintai seorang wanita hingga lupa kepadaNya, apatis terhadap lingkungan, terpisah dari teman-temannya, dan terjerumus kedalam zina.

Cinta itu ibarat samudra, sangat nikmat jika kita berenang dan menyelam di dalamnya. Namun, sangat celaka jika tenggelam dalam samudra cinta. Maka, janganlah bermain-main dengan cinta. Banyak pemuda mengenal cinta tapi kemudian menjadi zina. Banyak pencari cinta Sang Ilahi hanya menjadi pelaku bid’ah sejati. Sayang..sayang sekali sebuah keindahan berubah menjadi kehinaan. Mengekspresikan cinta juga membutuhkan pengetahuan, butuh ilmu. Seperti kata Imam Syafi’i, Ilmu sebelum amal. Begitu juga cinta,ada ilmunya, ada rambu-rambunya.

Berbicara tentang cinta tentu tak akan ada habisnya. Ribuan lagu, Jutaan puisi, ratusan kisah dan film telah lahir karena cinta. Bahkan, konon ada sebuah kitab klasik yang dikarang seorang ulama tentang kisah-kisah para pencinta. Tapi, selalu ada akhir dalam sebuah tulisan. Terima kasih Ya Rabbi telah menumbuhkan cinta dalam hati-hati kami. Penyejuk kala hati kami kering. Pelunak jiwa…menambah indahnya hidup yang singkat ini. Ah..cinta, kapan aku merayakannya ?…:-)

 

dari Rumah lama

Advertisements


7 Responses to “Berbicara Tentang Cinta”

  1. postingannya bagus banget… inspiratif sekali… emang kalo ngomongin cinta ngga akan ada habisnya.. dan apakah kita udah mencintai “ke-5 tingkatan” itu dengan sesuai dengan porsinya..

  2. 2 trian

    cinta, cinta..

    wis ah, ayoo update!! 😀

  3. 3 hadi

    cinta…,engkau begitu indah…,aq ingin menyentuh kmu…,tapi sampai skrang aq blum bsa menyentuh kmu…,cinta kmu penuh dngan keindahan,kau penuh dngan kasih sayang….

  4. 4 debby citra dewi

    love is blind miff….
    aq gak pernah percaya CINTA…..
    CINTA gak perlu dirayakan 😡
    tapi CINTA sm TUHAN,pastinya lah.
    untuk hadi : alaahhh… there’s no point buddy… LOVE is not as beautiful as it sounds… 🙂

  5. 5 Leli

    Bagus x kata-katanya

  6. 6 misbah

    i like it……..!

  7. 7 misbah

    ayo…udah pada punya ke-lima cinta itu gak……………?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: