On Being Jomblo

23Mar07

Well, hidup dalam dunia heterogen memang tidak mudah. Godaan menerpa silih berganti tak kenal hari. Seperti yang saya alami pada sebuah hari minggu yang cerah dengan angin sepoi-sepoi melenakan, di rumah kontrakan tercinta yang sudah hampir empat tahun ditempati bersama teman-teman satu daerah. Teman-teman satu rumah saya berasal dari beragam jurusan, tipe, karakter, dan pemikiran. Saya sengaja tidak tinggal bersama teman-teman satu tipe, satu aktivitas, dan satu pemikiran, karena ingin sedikit memberi warna dalam kehidupan masa muda yang tak akan pernah kembali ini. Selain itu, juga untuk menghindari kebosanan di tengah status sebagai lajang perantauan dari dataran tengah pulau Jawa.

Tapi, hidup dalam dunia kosmopolitan yang penuh keragaman membuat saya harus tahan terhadap tawaran-tawaran kenikmatan untuk meninggalkan idealisme (ciehh..:-D). Di hari minggu itu, kebetulan kedua teman saya yang kamarnya berhadap2an sedang kedatangan sekuntum bunga di hati masing-masing. Otomatis, dari ketiga manusia yang hidup di lantai bawah, hanya saya yang manyun di dalam kamar membaca cerpen di Kompas minggu dengan segala keabsurdannya. Sambil sayup-sayup ditemani lentingan gitar dari lagu Wind of Change-nya Scorpion.

Teman yang pintu kamarnya persis di depan saya, bunga hatinya datang dari Jogja untuk tes pekerjaan keesokan harinya. Jadilah, hari yang indah ini dimanfaatkan untuk relaks sebentar bersama sang pujaan hati. Sedangkan teman saya satu lagi, yang kamarnya berada disebelah teman saya yang pertama, sedang sakit pernafasan dan dijenguk seorang wanita bersenyum manis membawakan sekotak pizza dan serba aneka makanan dan minuman.

Hmmm…sebagai lelaki normal, jelas saya agak pundung juga. Busyet dah, denger ketawa-ketiwi ngga jelas yang mengalahkan ritme musik dari speaker Simbada CST z150 3.1 saya, tentu bikin segumpal daging di dada saya agak tergoda untuk menambah detakannya. Nah, disinilah tarik menarik antara sisi negatif dan positif sangat kentara saya rasakan. Sisi positif yang ditempa dalam kehidupan asketis (:-D) menimbulkan kesadaran transenden untuk tidak menikmati keindahan bunga kehidupan sebelum waktunya. Sedangkan, sisi negatif sebagai akibat darah muda yang sedang meluap-luapnya menyempilkan ide iseng sekadar untuk menimati kehidupan.

Kehidupan heterogen sebenarnya merupakan sebuah kepastian dalam hiruk pikuk dunia nyata. Budaya populer yang telah mengakar secara massif menyembunyikan godaan untuk hidup secara hedonis dalam keragamaan tersebut. Godaan kehidupan itulah yang sering menggeroti kesadaran transenden untuk tetap berada dalam jalanNya. Tidak sedikit manusia dengan modal spiritual melimpah dapat berubah menjadi hamba dunia dengan segala tingkah lakunya yang berbeda dengan konsepsi kehidupannya di masa lampau.

Godaan kehidupan tersebut sebenarnya menawarkan sebuah bentuk kebahagiaan pragmatis yang serasa mudah diraih manusia dalam waktu singkat. Kebahagiaan untuk segera bercengkerama dalam nikmatnya cinta sebagai contoh. Definisi cinta yang dipasarkan secara intensif dan menarik melalui media massa dan produk-produk hiburan lainnya, sehingga sangat memengaruhi persepsi orang akan pemaknaan cinta itu sendiri.

Namun, kenangan akan kehidupan bersama penuh kasih dengan saudara-saudara dalam tautan ikatan hati sedikit mengingatkan saya akan sebuah tempat kembali untuk menambah modal spiritual. Begitu juga dengan ingatan akan sebuah pertemuan rutin mingguan di bawah naungan berkah Sang Khalik dan doa para malaikat memberi harapan untuk membersihkan qalbu dari pekat hitam dosa (walau sebenarnya masih tersisa kerak-kerak jenuh rasa cinta dunia dan takut matiL).

Jadi teringat ketika saya sakit tipus dulu, kunjungan sahabat Galih dan Jalu dengan senyum manis dan sebungkus bubur ayam pak Zaenal yang gurih dan hangat (meskipun sebelumnya harus kirim sms dulu : Gal, kalo kesini bawain bubur yah, jgn pake ati ampela, telur aja.:-P). Lalu, senyuman ramah ala orang dataran tengah pulau Jawa dari sahabat Aan dan Tarsono. Kemudian, doa akh Adit dan Lucky ketika berkunjung,”Semoga cepet sembuh ya akh !” (sambil Lucky mengambil sepotong roti diatas meja dan dicocolkan ke bubur kacang hijau disamping saya..arrgh). itulah kenangan yang meyakinkan saya bahwa ada bentuk keindahan kasih yang lain diantara manusia, yang sedikit berbeda dengan pengalaman anak muda pada umumnya.

Akhirnya lamunan saya terhenti saat HP saya bergetar tanda ada pesan masuk,” Akh, selasa j8 syuting di kortim yah, bawa laporan kaderisasi!” Dalam hati saya menjawab sambil tersenyum,”Sir, Yes sir !”

Advertisements


2 Responses to “On Being Jomblo”

  1. 1 adhy

    man has a choice, you have ur own.
    hehehe

  2. masih tinggal di daerah sadang serang? -yang rumahnya dulu pernah saya kunjungin tiap malem untuk bikin buletin ITB fair?

    Udah lama gak ketemu . . .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: